21. 40 Langit yang mampu dilihatnya malam ini hanya langit-langit kamar, entah sedang menatapi atau sedang meratapi, sambil perlahan obrolan singkat hati pada otaknya -dua organ yang selalu bertolakbelakang- membawanya pada kebisingan yang amat sepi. Rav, kenapa ya, perasaan yang tidak punya tujuan, tidak punya rumah untuk pulang, justru menjadi jenis perasaan yang paling lama tinggal. Walau entah dimana, walau tidak menjejaki tempat apapun juga, tapi perasaan itu ada, nyata. Aku nggak tau ya hal-hal yang sedang ku urus, kesibukan-kesibukan yang rasanya ga pernah putus ini yang menghambat ku untuk bertemu orang baik selain kamu, atau justru sisa-sisa dari singgahmu yang pada akhirnya melahirkan keyakinan bahwa tanpa siapapun lagi, bahwa hanya dari sedikit yang tersisa darimu itu, aku tetap bisa hidup. Bisa untuk setidaknya merasa bahwa aku punya tujuan. Meski entah tujuan itu sedang menanti kedatanganku atau sedang nenuju sebuah tuju yang bukan aku. Rav, jika hadirmu adalah hujan ...
Aku ga tau ya mulainya dari mana Ketika aku sadari ternyata aku udah jatuh hati sama kamu sangat jauh, dan sangat terlambat untuk bisa dicegah lagi. Bertahun-tahun berlalu, mungkin saat aku nulis ini, udah tahun ke 3 kamu jadi bagian dari duniaku 2020, tahun penuh sesak yang seringkali kamu timpa dengan segala kebahagiaan yang membuat semua musibah udah ga berarti apa-apa 2020, tahun dimana kita benar-benar menatap wajah satu sama lain, setelah sekian lama cuma bisa ketemu lewat chat aja Aku salah banget saat pertama kali minta kamu buat ga suka sama aku, karena yang kamu, juga aku ga tau sebelumnya, saat aku bilang begitu, saat itu juga sebenernya hati telah menjatuhkan diri ke kamu Aku cuma takut ketika kita saling suka, nantinya akan berujung pisah juga Tapi, sekarang, saat mencintaimu sudah siap kutanggung beserta resiko patah hati nya, ternyata kamu yang justru ga ingin apa yang terjadi diantara kita berpotensi menjadi luka Aku yang pertama kalinya berani untuk mengatakan semuanya...