Langsung ke konten utama

Akhir (Awal)

Aku ga tau ya mulainya dari mana

Ketika aku sadari ternyata aku udah jatuh hati sama kamu sangat jauh, dan sangat terlambat untuk bisa dicegah lagi.

Bertahun-tahun berlalu, mungkin saat aku nulis ini, udah tahun ke 3 kamu jadi bagian dari duniaku

2020, tahun penuh sesak yang seringkali kamu timpa dengan segala kebahagiaan yang membuat semua musibah udah ga berarti apa-apa

2020, tahun dimana kita benar-benar menatap wajah satu sama lain, setelah sekian lama cuma bisa ketemu lewat chat aja

Aku salah banget saat pertama kali minta kamu buat ga suka sama aku, karena yang kamu, juga aku ga tau sebelumnya, saat aku bilang begitu, saat itu juga sebenernya hati telah menjatuhkan diri ke kamu

Aku cuma takut ketika kita saling suka, nantinya akan berujung pisah juga

Tapi, sekarang, saat mencintaimu sudah siap kutanggung beserta resiko patah hati nya, ternyata kamu yang justru ga ingin apa yang terjadi diantara kita berpotensi menjadi luka

Aku yang pertama kalinya berani untuk mengatakan semuanya, semua yang selama ini dipendam dan inginnya kuredam, namun gagal karena kehilangan kamu, ga akan pernah jadi yang aku mau

Bahkan untuk menolak pun kamu masih saja menggunakan kata-kata yang baik, seperti biasanya.

Butuh waktu untuk kamu menjelaskan semuanya, untuk membuat aku bisa paham kalau sedang banyak yang ingin kamu tuju, dan aku bukan salah satu diantara hal-hal itu. Dan aku, aku sangat bisa memahaminya.

Dari situ aku belajar, bahwa menyayangi tidak berarti bersama, tapi selalu memprioritaskan kebahagian ia yang disayangi.

Selagi kamu mempersiapkan diri dan menjaga hati untuk tidak terluka, secara bersamaan kamu juga menjaga hatiku untuk tidak terluka lebih dari penolakanmu saat itu. Dan itu wujud dari rasa sayang, bukan?

Aku juga belajar, bahwa selayaknya kamu dengan semua mimpi-mimpi dan tujuanmu, aku pun harus memprioritaskan diriku terlebih dulu. Aku harus bisa memberikan cinta itu buatku, harus bisa menjadi kebanggaan untuk diriku sendiri. 

Jadi, mulai dari situ, sama sepertimu, aku mulai memperbaiki mimpi-mimpi, mulai mencapai hal-hal yang tadinya enggan ku kejar, juga berusaha menjadi versi terhebat untuk bisa bersama seseorang nantinya.

Di masa mendatang, siapapun yang akan menggenggam tanganku, juga kamu, semoga ia orang yang juga sedang memperbaiki diri seperti yang sedang aku, dan kamu jalani saat ini.

Karena aku percaya, bertemu serta berpisah, selalu semesta persiapkan pada waktu yang paling baik. 

Bertemu denganmu saat patah, lalu berpisah saat aku sudah bisa menyikapi semua dengan lebih dewasa.

Dan aku percaya, semesta akan mempertemukan lagi pada waktu yang paling baik, atau akan mempertemukan lagi dengan yang lebih baik.

Jadi, pada detik ini, aku mengikhlaskanmu.

Komentar