21. 40
Langit yang mampu dilihatnya malam ini hanya langit-langit kamar, entah sedang menatapi atau sedang meratapi, sambil perlahan obrolan singkat hati pada otaknya -dua organ yang selalu bertolakbelakang- membawanya pada kebisingan yang amat sepi.
Rav, kenapa ya, perasaan yang tidak punya tujuan, tidak punya rumah untuk pulang, justru menjadi jenis perasaan yang paling lama tinggal.
Walau entah dimana, walau tidak menjejaki tempat apapun juga, tapi perasaan itu ada, nyata.
Aku nggak tau ya hal-hal yang sedang ku urus, kesibukan-kesibukan yang rasanya ga pernah putus ini yang menghambat ku untuk bertemu orang baik selain kamu, atau justru sisa-sisa dari singgahmu yang pada akhirnya melahirkan keyakinan bahwa tanpa siapapun lagi, bahwa hanya dari sedikit yang tersisa darimu itu, aku tetap bisa hidup. Bisa untuk setidaknya merasa bahwa aku punya tujuan.
Meski entah tujuan itu sedang menanti kedatanganku atau sedang nenuju sebuah tuju yang bukan aku.
Rav, jika hadirmu adalah hujan yang membuatku rela menyambutmu, lalu merelakan pergi berkali-kali, berulang-ulang, dengan memegang sebuah keyakinan bahwa ubahnya wujudmu menjadi awan, berkelana ke belahan bumi yang bisa saja tidak kuketahui nama dan keberadaannya, pada akhirnya tetap akan membawamu kembali.
Meski harus melewati ribuan mil sungai yang ada di bumi, walau harus menetap di kedalaman laut yang tak bisa ku datangi, kau akan kembali kan? Kamu pasti akan kembali, kan?
Malam ini ia sedang terkungkung oleh sebuah tanya yang tujuannya bukanlah jawaban melainkan sebuah keyakinan.
Komentar
Posting Komentar